Ketika Nimung Rame Menyambung Sawah, Hutan, dan Ingatan Sumbawa

0
7

KabarLagi.com—Di Sumbawa, sepiring nimung tidak sekadar berbicara tentang makanan. Di balik proses memasaknya tersimpan cerita tentang sawah, air, hutan, hasil panen, dan rasa syukur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Cerita itu kembali dihidupkan melalui Festival Nimung Rame yang digelar di Kantor Camat Lopok, Rabu, 19 Agustus 2026. Festival yang menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut dibuka Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot.

Hadir dalam kegiatan itu jajaran pemerintah daerah, Forkopimcam Lopok, para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat serta warga yang ikut meramaikan festival.

Bagi masyarakat Sumbawa, Nimung Rame memiliki akar yang kuat dalam kehidupan agraris. Nimung merupakan makanan tradisional yang proses pengolahannya menggunakan bambu. Tradisi ini tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan pertanian sekaligus menjadi salah satu cara merayakan hasil bumi.

Namun, tradisi tidak akan bertahan hanya karena pernah dilakukan oleh generasi terdahulu. Ia membutuhkan tangan-tangan baru untuk terus menghidupkannya.

Karena itu, Jarot menilai pewarisan keterampilan membuat nimung kepada generasi muda menjadi bagian penting dari pelestarian budaya. Anak-anak muda perlu mengenal bukan hanya cara membuatnya, tetapi juga memahami makna yang menyertai tradisi tersebut.

“Anak-anak muda harus diajarkan, sehingga ketika mereka nanti tua dan ibu, kakek, atau nenek mereka sudah tidak ada, masih ada yang pintar membuat nimung,” ujarnya.

Lebih jauh, Jarot melihat Nimung Rame sebagai bagian dari mata rantai kehidupan yang jauh lebih panjang. Tradisi itu berangkat dari hasil pertanian, terutama padi. Padi membutuhkan sawah, sawah membutuhkan air, sedangkan keberadaan air sangat berkaitan dengan kelestarian hutan.

“Tidak mungkin ada nimung tanpa padi, tidak mungkin ada padi tanpa lahan pertanian. Tidak mungkin lahan pertanian bisa berproduksi tanpa air, dan tidak mungkin ada air kalau tanpa hutan,” katanya.

Dari sana, sebuah tradisi kuliner berubah menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga alam.

Menurut Jarot, kelestarian hutan dan mata air pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan pertanian dan kehidupan masyarakat. Ketika mata air terjaga, sawah dapat terus berproduksi. Dari hasil panen itulah rasa syukur kemudian menemukan bentuknya melalui tradisi.

“Kalau mata air tetap ada maka sawah kita akan subur. Kalau sudah subur maka kita akan panen dengan baik. Kalau panen kita meningkat, salah satu wujud syukur kita adalah dengan Nimung Rame,” tuturnya.

Di tengah perubahan zaman, tantangan pelestarian budaya tidak hanya berada di ruang-ruang tradisional. Jarot juga mengajak generasi muda membawa cerita tentang budaya Sumbawa ke ruang digital.

Media sosial, video pendek dan berbagai platform digital, menurutnya, dapat menjadi panggung baru untuk memperkenalkan tradisi lokal kepada khalayak yang lebih luas. Budaya tidak harus disimpan sebagai kenangan, tetapi dapat diceritakan kembali dengan bahasa generasi hari ini.

“Generasi muda agar lebih kreatif memperkenalkan budaya-budaya dan tradisi-tradisi kita ke dalam dunia digitalisasi. Jangan hanya hal-hal yang lucu atau kontroversial saja yang diekspos, tetapi keunikan daerah kita juga harus diperkenalkan,” pesannya.

Festival Nimung Rame pun memiliki makna yang melampaui kemeriahan sebuah perayaan. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan generasi, mengingat kembali akar kehidupan agraris, sekaligus menyadarkan bahwa budaya dan alam tumbuh dalam satu hubungan yang tidak terpisahkan.

Di tangan generasi muda, Nimung Rame diharapkan tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ia perlu tetap hidup sebagai pengetahuan, keterampilan dan ingatan kolektif masyarakat Sumbawa.

Sebab, ketika sebuah tradisi masih bisa dibuat, diceritakan dan diwariskan, sesungguhnya sebuah bagian dari sejarah masyarakat masih terus bernapas.

“Mari kita jadikan kekayaan budaya sebagai kekuatan untuk membangun Sumbawa yang unggul, maju dan sejahtera,” ujar Jarot.