Gubernur NTB Dorong Lahirnya Arsitektur Khas Sasambo pada Musprov IAI NTB

0
192

KabarLagi.Com–Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, menghadiri Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-VII Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTB di Mataram, Sabtu (29/11/2025). Pada kesempatan tersebut, Gubernur Iqbal menyampaikan keresahannya mengenai belum adanya identitas arsitektur khas NTB yang disepakati sebagai rujukan resmi dalam pembangunan di daerah.

Dengan latar belakang pendidikan arsitektur yang pernah ia tempuh, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa hingga kini NTB belum memiliki desain arsitektur lokal yang dapat dijadikan pedoman bersama. Ia menilai simbol “lumbung” yang selama ini digunakan sebagai ikon arsitektur daerah tidak cukup mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat NTB.

“Lumbung bukan hanya ada di NTB. Bali punya, Lampung juga punya. Ia lebih merupakan bangunan penyimpanan padi, bukan identitas filosofis kita. Kita butuh konsep arsitektur yang lebih mencerminkan budaya Sasambo,” ujarnya.

Akibat ketiadaan identitas arsitektur yang jelas, Pemprov NTB sering mengalami kendala ketika memberikan arahan kepada investor, khususnya dalam pembangunan hotel maupun fasilitas komersial lainnya.

“Sampai hari ini saya belum bisa menunjukkan satu acuan arsitektur lokal yang resmi. Ini harus kita perbaiki,” tambahnya.

Untuk itu, Gubernur Iqbal meminta IAI NTB menyusun kajian komprehensif yang melibatkan arsitek senior dan muda, budayawan, hingga pelaku seni tradisi. Kajian tersebut diharapkan melahirkan:

  1. Desain arsitektur lokal Lombok, Sumbawa, dan Bima;

  2. Ornamen otentik masing-masing etnis (Sasak, Samawa, dan Mbojo);

  3. Material khas yang dapat direkomendasikan sebagai standar NTB.

Ia menegaskan, bila kajian tersebut telah matang, Pemprov NTB siap menguatkannya melalui regulasi resmi, baik berupa Peraturan Gubernur maupun Peraturan Daerah.

“Ini harus menjadi proyek serius. Identitas Sasambo harus hadir secara utuh, tanpa mengurangi kekayaan budaya setiap wilayah,” tegasnya.

Gubernur Iqbal juga meminta agar generasi arsitek muda dilibatkan secara aktif, karena merekalah yang kelak mewarisi dan mengembangkan konsep arsitektur NTB.

“Arsitektur daerah tidak boleh hanya menjadi milik senior. Anak-anak muda harus merasa menjadi bagian dari proses ini,” katanya.

Ia menutup sambutan dengan harapan kuat agar NTB suatu hari memiliki landmark arsitektur yang benar-benar mencerminkan jati diri daerah.

“Semoga keresahan ini menjadi pemicu lahirnya karya-karya besar. NTB harus punya ikon arsitektur lokal yang menjadi kebanggaan kita semua,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua IAI NTB, L. Agus Supriyadi, melaporkan perkembangan organisasi profesi arsitek di NTB. Saat ini, IAI NTB memiliki lebih dari 170 anggota, dan sekitar 50 di antaranya telah mengantongi Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA).

“STRA adalah syarat utama seorang arsitek profesional. Semakin banyak arsitek bersertifikasi, semakin besar peluang bagi mereka untuk berkarya,” jelasnya.

Ia juga menegaskan pentingnya Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK), terutama bagi arsitek yang terlibat dalam proyek-proyek pemerintah. Kedua sertifikasi ini, menurutnya, menjadi pilar yang menjamin standar kualitas karya arsitektur di NTB.

Agus juga menyoroti peran strategis Pemerintah Provinsi, khususnya Gubernur NTB, dalam penerbitan lisensi terkait praktik arsitektur lokal. Lisensi tersebut penting agar setiap arsitek memahami sekaligus menerapkan karakter budaya NTB dalam setiap karyanya.

Kegiatan Musprov turut dihadiri pengurus organisasi profesi, akademisi, praktisi arsitektur se-NTB, perwakilan IAI pusat, serta para dekan fakultas teknik dari Unram, Undikma, dan Universitas Muhammadiyah Mataram.