Lakey Tetap Menjadi Magnet Peselancar Dunia, Pelaku Wisata Soroti Minimnya Dukungan Daerah

0
23

KabarLagi.com–Pantai Lakey di Kecamatan Hu’u masih menjadi salah satu destinasi favorit peselancar mancanegara yang datang untuk menaklukkan ombak khas Samudera Hindia. Keindahan dan karakter ombak yang dimiliki kawasan ini menjadikannya tujuan utama bagi para surfer dari berbagai negara.

Setiap tahun, kawasan pesisir Lakey ramai dikunjungi wisatawan, mulai dari peselancar pemula hingga atlet profesional. Mereka datang untuk menikmati sensasi ombak yang telah lama dikenal di kalangan komunitas selancar internasional.

Beragam titik selancar yang tersebar di kawasan Lakey menawarkan karakter ombak berbeda. Lakey Peak dikenal dengan gulungan ombak berbentuk tabung yang sempurna, sementara Lakey Pipe, Nungas, Periscope, Couple Stone, hingga Nangadoro menghadirkan tantangan tersendiri bagi para peselancar.

Pelaku wisata Pantai Lakey, Alan Iwandai, mengatakan keunikan ombak yang dimiliki kawasan tersebut menjadi alasan utama mengapa Lakey tetap populer di tingkat internasional. Menurutnya, reputasi itu terus terjaga melalui rekomendasi dari para peselancar yang pernah datang.

“Setiap musim selalu ada wajah baru yang datang, dan tidak sedikit yang kembali lagi karena sudah jatuh cinta dengan ombak di sini,” ujar Alan saat ditemui di kawasan Pantai Lakey.

Meski demikian, tingginya minat wisatawan asing tersebut dinilai belum sejalan dengan perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan sektor pariwisata. Alan menilai dukungan Pemerintah Kabupaten Dompu terhadap promosi dan pembangunan destinasi wisata masih terbatas.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menghambat perkembangan Lakey sebagai destinasi unggulan. Tanpa strategi promosi yang berkelanjutan, Lakey dikhawatirkan akan kesulitan bersaing dengan daerah wisata lain yang terus memperkuat branding dan inovasi pariwisatanya.

Dampak dari lemahnya promosi, kata Alan, tidak hanya dirasakan oleh destinasi wisata itu sendiri, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada sektor pariwisata.

Pelaku usaha homestay, pemandu wisata, penyedia jasa penyewaan papan selancar, hingga pelaku UMKM kuliner disebut menjadi kelompok yang paling rentan merasakan dampak apabila jumlah kunjungan wisatawan menurun.

“Kalau wisatawan berkurang, yang pertama kena dampaknya bukan pemerintah, tapi masyarakat kecil yang sehari-hari hidup dari Lakey,” ujar Alan.

Lebih lanjut, ia menilai penyelenggaraan event berskala internasional menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga eksistensi Lakey di mata dunia. Event selancar tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi sarana promosi yang efektif.

Melalui kejuaraan internasional, nama Lakey dan Dompu dapat dikenal lebih luas melalui pemberitaan media maupun konten digital yang dibagikan peserta kepada jaringan mereka di berbagai negara.

“Sekali ada event internasional, nama Dompu langsung tersebar ke mana-mana lewat media dan media sosial peserta. Itu promosi yang nilainya jauh lebih besar dari biayanya,” tutur Alan.

Di tengah keterbatasan dukungan tersebut, Alan meyakini potensi wisata Lakey tetap akan bertahan berkat kekuatan alam yang dimilikinya. Namun, ia menilai peluang besar tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan dan investasi yang serius agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memperkuat komitmen dalam pengelolaan sektor pariwisata melalui perencanaan yang matang, dukungan anggaran, serta program promosi yang terukur.

“Alam sudah memberi kita modal yang luar biasa. Sekarang tinggal pemerintah mau serius mengelolanya atau tidak,” pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun wartawan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Dompu Tahun 2026 belum mencantumkan alokasi khusus untuk program promosi wisata Lakey secara berkelanjutan, termasuk dukungan terhadap penyelenggaraan event promosi pariwisata.