Ole:Dr. Syafril, M.Pd, Akademisi Universitas Muhammadiyah Mataram
KabarLagi.Com--Seni khath, atau yang lebih akrab dikenal sebagai kaligrafi Islam, pada hakikatnya merupakan sebuah ritus spiritual yang lahir dari rahim keheningan. Bagi seorang seniman khath (khatat), selembar kanvas putih bukan sekadar media gambar, melainkan ruang kontemplasi tempat imajinasi dibebaskan, rasa dirajut, dan makna dituangkan melalui goresan huruf-huruf suci. Dari suasana yang tenang itulah lahir harmoni: perpaduan warna yang seimbang, komposisi yang matang, serta visualisasi artistik yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyentuh jiwa.
Namun, apa jadinya jika ruang kontemplasi yang sakral itu dipindahkan ke sebuah tempat yang identik dengan kebisingan?
Pemandangan unik sekaligus menantang inilah yang tersaji dalam Lomba Khath pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2026. Alih-alih diselenggarakan di aula yang tenang atau lingkungan masjid yang damai, perlombaan ini justru digelar di kawasan Sirkuit Internasional MotoGP Mandalika, Lombok Tengah. Sebuah lokasi yang secara alami dirancang untuk merayakan kecepatan, adrenalin, teknologi, dan tentu saja kebisingan.
Ketua Dewan Hakim Cabang Khath Al-Qur’an, Isep Misbah, kaligrafer nasional yang ditunjuk oleh panitia MTQ ke-XXXI NTB, menyampaikan bahwa penyelenggaraan lomba khath di kawasan sirkuit merupakan pengalaman yang sangat unik. Bahkan, tidak berlebihan jika disebut sebagai salah satu lomba kaligrafi paling tidak biasa yang pernah digelar. Sebuah kontradiksi yang menarik: di satu sisi terdapat ruang yang identik dengan deru mesin kendaraan balap, sementara di sisi lain para peserta berusaha menghadirkan keindahan ayat-ayat suci melalui sentuhan pena dan warna.
Di balik kontras suasana tersebut, apresiasi yang tinggi layak diberikan kepada panitia penyelenggara. Keputusan menjadikan kawasan Sirkuit Internasional MotoGP Mandalika sebagai lokasi lomba merupakan langkah yang berani, kreatif, dan keluar dari kebiasaan. Pilihan ini membuktikan bahwa syiar Islam melalui seni tidak harus selalu hadir dalam ruang yang seragam dan konvensional. Seni religius ternyata mampu berdialog dengan ruang-ruang modern, bahkan dengan simbol kemajuan teknologi dan olahraga otomotif sekalipun.
Pilihan lokasi ini sekaligus memperluas cakrawala pemahaman kita tentang ruang estetika. Seni kaligrafi tidak kehilangan nilai spiritualnya hanya karena dipentaskan di tengah lingkungan yang berbeda. Sebaliknya, ia menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dan tetap memancarkan pesona dalam berbagai situasi.
Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi para peserta. Mereka tidak hanya dituntut memiliki keterampilan teknis yang tinggi dalam mengolah huruf, warna, dan komposisi visual, tetapi juga ditantang untuk memiliki ketahanan psikologis yang luar biasa. Mereka harus mampu mengabaikan gangguan eksternal dan menjaga keheningan di dalam diri mereka sendiri.
Bayangkan betapa sulitnya mempertahankan konsentrasi saat mencampur warna, menyusun desain, atau menarik garis-garis presisi pada kanvas, sementara telinga terus menerima berbagai suara dari lingkungan sekitar. Sedikit saja fokus terganggu, maka keseimbangan komposisi dapat berubah, goresan menjadi kurang sempurna, dan konsep yang telah dirancang dengan matang bisa kehilangan ruh artistiknya.
Karena itu, arena MTQ kali ini tidak lagi sekadar menjadi panggung kompetisi seni, tetapi juga menjadi arena pengujian ketahanan mental. Para peserta seakan dituntut melakukan isolasi spiritual di tengah keramaian. Mereka harus membangun “dinding kedap suara” dalam pikiran mereka sendiri agar imajinasi tetap hidup, kreativitas tetap mengalir, dan keindahan tetap dapat diwujudkan tanpa terdistorsi oleh hiruk-pikuk di sekelilingnya.
Pada akhirnya, siapa pun yang berhasil meraih prestasi dalam Lomba Khath MTQ ke-XXXI NTB patut mendapatkan penghormatan yang tinggi. Mereka bukan hanya seniman yang mampu memadukan warna dan huruf dengan indah, tetapi juga pribadi yang berhasil melahirkan karya di tengah tantangan konsentrasi yang tidak ringan. Mereka menunjukkan bahwa kreativitas sejati tidak bergantung sepenuhnya pada kondisi yang ideal, melainkan pada kemampuan menjaga fokus dan kejernihan batin.
Sirkuit MotoGP Mandalika pada MTQ kali ini menjadi saksi bahwa keindahan ayat-ayat Al-Qur’an yang dituangkan melalui seni kaligrafi tidak akan luntur oleh kebisingan dunia. Justru dari tempat yang identik dengan kecepatan dan gemuruh itulah lahir sebuah pelajaran berharga: bahwa keheningan sejati tidak selalu ditemukan di tempat yang sunyi, melainkan di dalam jiwa yang mampu tetap tenang di tengah riuhnya kehidupan.
Dari Mandalika, para khatat dan penyelenggara MTQ telah mengajarkan sebuah refleksi mendalam kepada kita semua: imajinasi terbesar sering kali lahir bukan ketika dunia diam, tetapi ketika manusia mampu menemukan keheningan di tengah kebisingan.
