Kiat Kelola Sampah Ala Founder Bumi Buddies

0
36

KABARLAGI.COM, Founder dari Bumi Buddies, Made Urmylla mengungkapkan kita sebisa mungkin mengurangi produksi sampah dengan contoh hal kecil. Misalnya, menghabiskan makanan, menggunakan kembali barang-barang agar tidak menjadi sampah, kemudian mendaur ulang sampah sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dan yang terakhir adalah mengganti pemakaian barang yang biasa kita pakai dengan barang yang ramah akan lingkungan.
 
Made Urmylla mengemukakan pandangannya dalam webinar bertajuk ‘Menuju Generasi Melek Lingkungan Sedari Dini’ yang digelar oleh tim pengabdian masyarakat (pengmas) Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI), Sabtu (24/10). Narasumber lain yang berbicara dalam forum itu adalah I’in Rosdiana, Co-Founder Komunitas Kresek Solo, dan Endah Kusdiarwati, Ketua Jangkar Ecovillage Depok.
 
Made mengatakan, Bumi Buddies sendiri merupakan organisasi masyarakat sipil yang berfokus untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan pemuda Indonesia tentang lingkungan melalui edukasi yang kreatif. Kenapa harus anak dan pemuda Indonesia?
 
“Sebagai pemuda Indonesa harus memiliki kesadaran karena kita sebagai bagian dari anak bangsa harus berinisiatif dan sadar akan lingkungan kita,” ujar Made.
 
Berdasarkan catatan Bumi Buddies, terdapat beberapa fakta di TPA Cipayung. Pertama, banyak gunungan sampah. Kedua, terjadi kebakaran kala musim kemarau. Ketiga, sisa tanah yang makin sempit.
 
Lebih lanjut Made mengatakan, bahwa setiap hari 900 ton sampah masuk ke TPA Cipayung.
 
“Ini hampir sama dengan berat 225 gajah dewasa!,” tegas ia.
 
Kemudian, volume sampah hingga mencapai 1.403.000 meter kubik dari kapasitas 1.502.000 meter kubik. Tersisa 99.000 meter kubik saja!.
 
“Saat ini timbunan sampah TPA Cipayung sudah mencapai ketinggian 23 meter!,” terangnya.
 
Lantas, apa dampak timbulan sampah? Menurut Made ada lima dampak. Pertama, akan menimbulkan bau. Kedua, sumber penyakit. Ketiga, penghasil gas methane. Keempat, sampah akan terbawa sampai laut. Kelima, ancaman untuk ekosistem.
 
Made lantas mengajak anak-anak dan remaja untuk membangun kesadaran dan kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan sekitar. Apa yang bisa dilakukan untuk berkontribusi pada lingkungan di sekitar kita.
 
Dia menambahkan, tahapan yang bisa dilakukan antara lain, penanganan di tempat (on site handling) dengan konsep 3R; rumah; tempat penampungan sementara (TPS); Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST); Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R); dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)/Landfill.
 
Made pun mengajak peserta diskusi untuk memulai mengelola sampah dari rumah masing-masing. Bagaimana caranya?.
 
Pertama, pemilihan sampah. Kita harus memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik merupakan sampah atau limbah yang berasal dari sisa-sisa mahluk hidup yang dapat terurai secara alami. Sementara, sampah anorganik merupakan sampah atau limbah yang dihasilkan dari berbagai macam proses. Sampah ini tidak dapat terurai oleh bakteri secara alami dan umumnya memerlukan waktu yang lama.
 
“Kedua, kita harus memahami konsep 4R, yakni Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recyle (mendaur ulang), dan Replace (mengganti),” tukasnya.[]