Kerajaan Sangiang: Kisah dari Timur yang Terselip di Naskah Tome Pires

0
314
Foto Sangian dari ketinggiang, sumber pesona indonesia kemenpar

KabarLagi.Com– Dalam diskusi bedah buku Legenda dan Realitas: Tradisi Dou Sangiang dan Sejarah Gunung Api” yang digelar di Mataram baru-baru ini, pada forum diskusi tersebut  mengungkapkan fakta menarik tentang Pulau Sangiang yang disebut-sebut dalam berbagai literatur kuno dunia. Salah satu referensi penting yang diangkat berasal dari karya klasik Tome Pires, seorang penjelajah Portugis abad ke-16, dalam bukunya Suma Oriental (1512–1515).

Dalam catatannya, Tome Pires menulis bahwa Pulau Sangiang yang saat ini masuk dalam administrasi kecamatan wera, kabupaten Bima. Dulunya merupakan sebuah kerajaan yang ramai dan strategis karena memiliki banyak pelabuhan yang menjadi pusat aktivitas perdagangan di kawasan timur Nusantara. Ia menggambarkan Sangiang sebagai wilayah yang makmur, dengan raja yang masih menganut ajaran leluhur dan masyarakatnya dikenal sebagai pelaut ulung serta pedagang tangguh.

Selain Suma Oriental, naskah kuno Negarakertagama karya Mpu Prapanca juga mencatat nama Sangiang sebagai salah satu daerah di bagian timur sebagai jalur transit kapal yang ramai. Hal ini memperkuat pandangan bahwa Sangiang bukan hanya dikenal di level lokal, tetapi juga dalam jaringan perdagangan internasional pada masa lampau.

Salah satu pemateri dalam diskusi tersebut menyebutkan bahwa posisi Pulau Sangiang yang berada di jalur strategis antara Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara menjadikannya pusat transit penting bagi kapal-kapal niaga dari berbagai daerah. “Letak geografis Sangiang membuatnya menjadi simpul perdagangan rempah dan hasil laut. Tome Pires mencatat dengan detail bagaimana aktivitas pelabuhan di sana begitu ramai,” ujar Gus Paox Ibeng

Diskusi tersebut juga menyoroti keterkaitan antara tradisi masyarakat Sangiang dengan jejak sejarah masa lampau. Tradisi laut, ritual perahu, hingga keyakinan terhadap gunung api Sangiang dianggap sebagai warisan peradaban yang telah eksis sejak masa kerajaan kuno yang dicatat oleh para penulis dunia.