Aksi Pikul Beras Zulkifli Hasan Diduga Hanya Pengalihan Isu Dosa Lama Pembabatan Hutan

0
649

KabarLagiCom–Aksi Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yang tertangkap kamera memikul beras dan ikut membersihkan lumpur saat mengunjungi korban banjir di Sumatera kembali menjadi sorotan publik. Namun, tidak semua pihak melihat aksi tersebut sebagai bentuk empati. Sebagian analis menilai momen itu justru sengaja diviralkan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kritik terhadap rekam jejaknya saat menjabat sebagai Menteri Kehutanan.

Seorang pengamat politik memaparkan bahwa Zulkifli Hasan saat ini kembali menjadi bahan perbincangan karena rekam kebijakannya di sektor kehutanan. Ia sebelumnya disorot karena menerbitkan izin pelepasan kawasan hutan seluas 1,64 juta hektare, yang membuka peluang terjadinya alih fungsi hutan, termasuk untuk perkebunan kelapa sawit. Kebijakan tersebut kala itu mendapat kritik tajam dari sejumlah organisasi lingkungan, salah satunya Greenomics.

“Menurut saya, tindakan memikul beras dan menyendok lumpur itu bukan spontanitas. Indikasinya kuat bahwa ini merupakan upaya by setting untuk menggeser fokus publik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sebelum aksi ini mencuat, perhatian publik kembali tertuju pada dugaan kontribusi kebijakan Zulkifli Hasan terhadap kerusakan hutan yang memicu bencana ekologis di Sumatera. “Fokus publik terhadap kebijakan pelepasan hutan yang sangat luas itulah yang, diduga, ingin dialihkan oleh Zulkifli Hasan,” tambahnya.

Menurutnya, kemunculan aksi dramatis seperti memikul beras justru mengandung pesan politik terselubung: mempublikasikan “dosa kecil” berupa tingkah yang terlihat konyol untuk menutupi persoalan yang jauh lebih besar dan serius. “Aksi itu saya nilai sudah dirancang dan diperhitungkan efeknya. Tujuan akhirnya agar publik lebih mem-bully soal gaya dia memikul beras daripada menggali peran dia dalam pembabatan hutan,” jelasnya.

Ia menutup analisisnya dengan menyebut bahwa pola serupa sering digunakan oleh tokoh politik untuk membelokkan opini publik ketika reputasinya terancam. “Ini bukan sekadar aksi spontan membantu korban banjir. Ini strategi komunikasi politik yang sangat jelas,” pungkasnya.