KabarLagi.Com– Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Nusa Tenggara Barat menggelar Pelatihan dan Penguatan Kapasitas Relawan Muhammadiyah NTB sebagai langkah memperkuat kesiapsiagaan relawan dalam merespons bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Provinsi Aceh.
Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung PWM NTB, Kota Mataram, pada 31 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026 ini menjadi bagian dari respon kemanusiaan Muhammadiyah dalam menyiapkan relawan yang terlatih, tangguh, dan siap diterjunkan ke wilayah terdampak bencana.
Pelatihan dan penguatan kapasitas ini sekaligus menjadi proses seleksi relawan. Dari rangkaian pembekalan dan evaluasi intensif yang dilakukan selama kegiatan, sebanyak 12 relawan Muhammadiyah NTB dinyatakan siap didelegasikan untuk bertugas di Provinsi Aceh guna mendukung respon lanjutan dan pemulihan awal pascabencana.
Selama pelatihan, peserta dibekali berbagai materi terkait persiapan penugasan di lokasi bencana, meliputi penguatan dasar dan manajemen kebencanaan, sistem komando penanganan darurat, logistik, layanan psikososial, simulasi lapangan, serta penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai landasan etika dan kepedulian sosial relawan.
Relawan Muhammadiyah NTB dijadwalkan bertugas selama 30 hari kalender, terhitung 15 Januari hingga 15 Februari 2026, dan akan bekerja dalam tiga klaster utama, yakni data dan informasi, logistik, serta psikososial. Koordinator lapangan relawan, Hamdani Rakasiwi, menyampaikan bahwa seluruh tim telah siap secara fisik dan mental untuk menjalankan misi kemanusiaan di Aceh.
Ketua MDMC PWM NTB, Yudhi Lestanata, menegaskan bahwa pemberangkatan relawan merupakan bentuk nyata komitmen Muhammadiyah NTB dalam respon kebencanaan nasional yang dijalankan dalam semangat One Muhammadiyah One Response (OMOR). Menurutnya, OMOR adalah sistem respon bencana terpadu Persyarikatan, di mana seluruh unsur Muhammadiyah mulai dari majelis, lembaga, organisasi otonom (ortom), hingga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bergerak dalam satu koordinasi dan satu komando melalui MDMC dalam urusan kebencanaan.
“Dalam kerangka OMOR, MDMC bertanggung jawab pada koordinasi dan pelaksanaan respon di lapangan, sementara Lazismu berperan sebagai lembaga penghimpun dan pengelola donasi kemanusiaan. Seluruh unsur Persyarikatan bergerak bersama sesuai perannya agar respon yang diberikan lebih efektif, terukur, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terdampak,” ujar Yudhi.
Sementara itu, Ketua Lazismu NTB,Wiryandinata, menjelaskan bahwa Lazismu menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak bencana, seperti logistik pangan, layanan darurat, serta dukungan pemulihan awal, sekaligus memperkuat operasional respon kebencanaan yang dilaksanakan secara terkoordinasi bersama MDMC.
Kegiatan Pelatihan dan Penguatan Kapasitas Relawan Muhammadiyah NTB ini ditutup dengan pengarahan Ketua PWM NTB H. Falahuddin yang dihadiri seluruh relawan, pengurus LRB/MDMC PWM NTB, serta Ketua Lazismu NTB. Dalam arahannya, H. Falahuddin menegaskan bahwa relawan membawa nama Muhammadiyah NTB sehingga harus menjunjung tinggi nilai kepribadian Muhammadiyah dengan mengedepankan keseimbangan antara hablumminallah dan hablumminannas sebagai kekuatan utama dalam menjalankan misi kemanusiaan.
