KabarLagi.Com–Kinerja ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada awal tahun 2026 menunjukkan arah yang semakin positif. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB melaporkan adanya peningkatan tajam pada sektor ekspor, pertumbuhan signifikan kunjungan wisatawan, serta kondisi inflasi yang tetap terkendali.
Kepala BPS NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, dalam rilis resmi statistik yang disampaikan pada Senin (4/5/2026), mengungkapkan bahwa nilai ekspor NTB pada Maret 2026 mencapai US$ 567,57 juta. Angka ini melonjak drastis hingga lebih dari 9.000 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Maret 2026, total ekspor NTB tercatat sebesar US$ 707,92 juta, jauh melampaui capaian tahun sebelumnya.
Menurut Wahyudin, lonjakan ini tidak terlepas dari kontribusi sektor unggulan, khususnya pertambangan dan industri pengolahan tembaga yang terus mengalami penguatan melalui proses hilirisasi.
Selain ekspor, sektor pariwisata juga menunjukkan geliat yang menggembirakan. Jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Lombok pada Maret 2026 tercatat sebanyak 6.428 orang, meningkat 24,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, pergerakan wisatawan domestik mencapai 1,39 juta orang, tumbuh 34,64 persen secara bulanan.
Kenaikan ini turut berdampak pada tingkat hunian hotel. Tercatat, jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang mencapai 87.816 orang, sedangkan hotel nonbintang mencatat 110.249 tamu. Peningkatan ini dipicu oleh tingginya mobilitas masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri.
Dari sisi transportasi, aktivitas pergerakan masyarakat juga mengalami peningkatan signifikan. Jumlah penumpang angkutan udara domestik naik 44,58 persen, sementara angkutan laut meningkat 39,84 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya dinamika ekonomi dan mobilitas di wilayah NTB.
Di tengah pertumbuhan tersebut, stabilitas harga tetap terjaga. Inflasi tahunan (year-on-year) pada April 2026 tercatat sebesar 3,27 persen. Bahkan, secara bulanan NTB mengalami deflasi sebesar 0,11 persen, yang dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan berbagai jenis sayuran akibat melimpahnya pasokan pasca panen.
Pada sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 128,00 pada April 2026. Angka ini menunjukkan bahwa daya beli petani masih berada dalam kondisi yang relatif baik, meskipun mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara keseluruhan, BPS menilai bahwa fondasi ekonomi NTB pada awal tahun ini cukup kuat. Pertumbuhan yang ditopang oleh sektor ekspor, meningkatnya aktivitas pariwisata, serta inflasi yang terkendali menjadi indikator penting bagi prospek ekonomi ke depan. Namun demikian, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat tetap perlu dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.
